SWASEMBADA GULA KONSUMSI TAHUN 2023 - Kabupaten Pasuruan

SWASEMBADA GULA KONSUMSI TAHUN 2023

1085x dibaca    2022-01-05 08:36:53    Administrator

SWASEMBADA GULA KONSUMSI TAHUN 2023

Oleh :

GATI WINDIASTIKA, SP. MP.

Pengawas Benih Tanaman Ahli Muda

Tahun 2023 ditargetkan tercapainya swasembada gula konsumsi oleh Kementerian Pertanian. Untuk mempercepat tercapainya target tersebut, maka secara bertahap harus dilakukan peningkatan produksi melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi untuk meningkatkan produktivitas gula nasional. Program ini sudah dilakukan sejak tahun 2020 melalui kegiatan rawat ratoon, bongkar ratoon dan perluasan areal.

Untuk kegiatan bongkar ratoon dan perluasan areal telah disiapkan benih tebu secara berjenjang, baik melalui kerjasama dengan penangkar juga pembangunan nurseri yang akan memproduksi benih, sehingga nantinya akan tersedia benih unggul yang tepat waktu dan sesuai kebutuhan. Ketersediaan benih yang berkualitas, berkesesuaian, berkecukupan dan berkelanjutan memiliki peran penting dalam meningkatkan produktivitas tebu. Penyediaan benih tebu terdapat lima kelas dari Kebun Benih Pokok Utama (KBPU) yang setara dengan benih penjenis (G0), Kebun Benih Pokok (KBP) setara benih penjenis (G0), Kebun Benih Nenek (KBN) setara benih dasar (G1), Kebun Benih Induk (KBI) setara benih pokok (G2), dan Kebun Benih Datar (KBD) untuk produksi benih sebar (G3). Puslitbangbun berperan dalam penyediaan benih sumber atau kelas benih pokok (G0-G2). Selebihnya untuk menjamin benih sebar yang tersedia di tingkat penangkar benih, Puslitbangbun melakukan pendampingan terhadap para petani penangkar. Untuk kelas benih di level paling bawah yaitu KBI dan KBD membutuhkan lahan sangat luas sehingga diperlukan kerjasama terutama dengan pabrik-pabrik gula agar ketersediaan benih sebar tercukupi. Untuk mendukung ketersediaan benih sumber, Puslitbangbun menyediakan beberapa teknologi yaitu varietas, teknologi perbanyakan benih, serta sarana dan prasarana.

Puslitbangbun telah melakukan perakitan varietas tebu terutama untuk meningkatkan produksi dan rendemen yang tinggi. Selain itu dikembangkan varietas tebu yang tahan terhadap cekaman biotik seperti hama penggerek, luka api, dan varietas yang toleran cekaman abiotik seperti toleran kekeringan, salinitas, iklim basah, lahan masam, dan lahan rawa. Varietas toleran cekaman biotik dan abiotik ini diperlukan untuk mendukung program dari pemerintah terutama ekstensifikasi lahan-lahan tebu. Target ekstensifikasi banyak di luar Pulau Jawa yang lahannya merupakan lahan suboptimal dengan berbagai macam kekurangan atau keterbatasan.

Lahan tebu saat ini semakin bergeser ke lahan kering yang jauh dari pabrik gula. Irigasi merupakan salah satu faktor penting dalam peningkatan produktivitas. Karena itu perlu dibangun sumber air untuk pengairan tebu. Sedangkan perbenihan tebu sering menjadi kendala terutama memenuhi jumlah dan waktu yang tepat, apalagi penjenjangan benih tebu cukup panjang mulai dari KBD sampai KTG bisa sampai 2 tahun. Oleh karena itu pembangunan sumber benih di lokasi pengembangan tebu menjadi salah satu hal terpenting dalam pencapaian swasembada gula. Selain itu untuk menyiapkan benih provitas bisa dilakukan melalui kultur jaringan serta teknologi lainnya agar dapat menghasilkan benih sebanyak 83-100 ton per Ha.

Selama ini provitas tebu mengalami penurunan, rata-rata 60.000 – 70.000 ton/hektar. Padahal potensi tebu biasa di atas 100.000 – 120.000 ton/hektar dengan rendemen di atas 8. Kementan juga telah memperkuat kemitraan antara petani dan industri mulai dari kegiatan mulai dari on farm sampai off farm.

Disaat produktivitas dan rendemen tinggi, jangan sampai mengalami masalah pada saat pengolahannya. Dan sebaliknya, ketika industri mengharapkan bahan baku yang bermutu dan banyak, tidak terkendala dengan bahan bakunya. Sehingga di hulu, harus terus didorong perluasan areal untuk menghasilkan produksi tinggi dan bagus. sedangkan di hilir industri juga harus membeli dengan harga yang bagus serta menghasilkan gula yang bagus.

Agar bisa saling menguntungkan dilakukan kerjasama dengan Kementerian Perindustrian dan BUMN untuk melakukan kemitraan kelompok tani. Sehingga saat petani menjual panennya kepada pabrik gula dengan mutu yang baik, akan mendapatkan harga wajar. Kalaupun ada produk yang masih kurang sesuai, maka industri harus ikut andil untuk memberi binaan seperti memperbaiki kebun sampai panen agar petani mendapat kepastian harga.

Pabrik gula juga perlu meningkatkan efisiensi dan pengolahan gula yang dihasilkan. Jika kebun diperbaiki nantinya dapat meningkatkan produktivitas. Sehingga ada sinergi mulai dari penanaman hingga industri pengolahannya. Petani bisa menghasilkan bahan baku bagus dan pabrik hasilkan gula yang bagus.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2020. Tahun 2023 Swasembada Gula Konsumsi. https://mediaperkebunan.id/tahun-2023-swasembada-gula-konsumsi/

Bardono, Setiyo. 2020. Penyediaan Benih Tebu Dukung Target Produksi dan Swasembada Gula Konsumsi. http://technology-indonesia.com/pertanian-dan-pangan/inovasi-pertanian/penyediaan-benih-tebu-dukung-target-produksi-dan-swasembada-gula-konsumsi/

Syahrul. 2021. Ini Langkah Kementan Capai Swasembada Gula Konsumsi 2023. https://www.swadayaonline.com/mobile/artikel/8428/Ini-Langkah-Kementan-Capai-Swasembada-Gula-Konsumsi-2023/

Welly. 2020. Pemerintah Target Swasembada Gula pada 2023. CNN Indonesia "Pemerintah Target Swasembada Gula pada 2023" selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201124113327-92-573714/pemerintah-target-swasembada-gula-pada-2023.

Komentar (0)

  1. Belum ada komentar


Tulis Disini