KONDISI PERTANAMAN CENGKEH DAN PENGENDALIAN OPT DI KABUPATEN PASURUAN - Kabupaten Pasuruan

KONDISI PERTANAMAN CENGKEH DAN PENGENDALIAN OPT DI KABUPATEN PASURUAN

1509x dibaca    2019-12-27 13:27:06    Administrator

KONDISI PERTANAMAN CENGKEH DAN PENGENDALIAN OPT

DI KABUPATEN PASURUAN

Oleh : Rudi Hartono, SP.

UPPT Kab. Pasuruan

Luas areal perkebunan cengkeh rakyat di Jawa Timur sampai dengan tahun 2017 diperkirakan sekitar 39.489 ha. Produktivitas rata-rata tanaman masih rendah yaitu sekitar 399 kg per ha per tahun dari potensi. Rendahnya produktivitas tersebut antara lain salah satunya disebabkan oleh adanya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang dapat mengakibatkan terjadinya kehilangan hasil dan penurunan kualitas produk.

LUAS AREAL, PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS
PERKEBUNAN CENGKEH RAKYAT DI JAWA TIMUR TH 2017

NO

KABUPATEN/KOTA
District/City

LUAS AREAL/
Area (Ha)

PRODUKSI/
Production
(Ton)

PRODUKTIVITAS (Kg/Ha/Th)

TBM/
Immature

TM/
Mature

TT/TRDamaged

JUMLAH/
Total

1

GRESIK

28

12

5

46

5

400

2

MOJOKERTO

41

105

0

146

43

410

3

JOMBANG

90

1.841

65

1.996

641

348

4

MADIUN

466

1.070

223

1.759

452

422

5

MAGETAN

410

330

173

913

125

379

6

NGAWI

526

376

69

970

164

437

7

PONOROGO

624

1.585

392

2.601

672

424

8

PACITAN

1.682

4.302

2.179

8.163

1.785

415

9

KEDIRI

290

1.178

236

1.704

429

364

10

NGANJUK

369

920

990

2.279

372

404

11

BLITAR

110

1.493

924

2.527

578

387

12

TULUNGAGUNG

482

1.138

59

1.679

499

438

13

TRENGGALEK

1.340

3.517

729

5.587

1.426

405

14

MALANG

589

2.126

1.020

3.735

882

415

15

PASURUAN

266

1.002

27

1.295

352

351

16

PROBOLINGGO

695

405

44

1.144

186

459

17

LUMAJANG

240

859

525

1.624

325

378

18

BONDOWOSO

9

13

50

72

6

423

19

SITUBONDO

12

10

0

22

4

350

20

JEMBER

256

79

0

335

30

380

21

BANYUWANGI

0

558

90

648

185

332

22

SUMENEP

25

130

90

245

42

323

Jumlah

8.550

23.049

7.891

39.489

9.202

399

Sumber : APCI Jatim

Grafik Luas Areal Tanaman Cengkeh

Sumber : APCI Jatim

Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu kabupaten yang mempunyai potensi cukup baik yaitu tersebar pada 13 (tiga belas) kecamatan seperti tabel di bawah ini :

Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Tanaman Cengkeh

Di Kabupaten Pasuruan

Tahun 2018

No.

Kecamatan

Luas Areal ( Ha )

Produksi

Produktivitas

TBM

TM

TT / TR

Jumlah

( ton )

( Kg/Ha )

1

2

3

4

5

6

7

8

1

Purwodadi

35,67

86,10

1,23

123,00

31,12

361,44

2

Tutur

67,40

266,23

3,37

337,00

100,62

377,94

3

Puspo

100,08

175,14

2,78

278,00

64,00

365,42

4

Tosari

5,06

39,10

1,84

46,00

6,00

153,45

5

Lumbang

15,72

47,16

2,62

65,50

5,00

106,02

6

Pasrepan

24,59

47,68

2,24

74,50

12,50

262,16

7

Purwosari

26,80

12,40

0,80

40,00

15,74

1.269,35

8

Sukorejo

3,96

2,97

2,07

9,00

3,00

1.010,10

9

Prigen

64,24

58,06

1,24

123,53

44,62

768,53

10

Pandaan

2,64

83,60

1,76

88,00

18,00

215,31

13

Gempol

5,00

1,44

2,03

8,47

1,00

694,49

Jumlah

351,15

819,88

21,97

1.193,00

301,60

5.584,23

Sumber : Dinas pertanian Kabupaten Pasuruan

Kerugian akibat serangan OPT utama hama penggerek batang Nothopeus sp. dan penyakit BPKC (Pseudomonas syzygii) pada cengkeh masih menjadi ancaman dalam upaya peningkatan produktivitas dan mutu hasil. Sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 887/Kpts/07.210/9/97, tentang Pedoman Pengendalian OPT, bahwa Perlindungan Tanaman dilaksanakan dengan menerapkan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dan penggunaan pestisida kimia merupak alternatif terakhir jika beberapa teknik pengendalian sudah dilakukan dan kurang mendapatkan hasil yang efektif.

Pengendalian hama dan penyakit masih belum optimal karena luas areal yang harus dikendalikan jauh lebih luas dibandingkan dengan luas areal yang dikendalikan. Selain itu masih rendahnya kesadaran petani untuk melakukan pengendalian secara swadaya dan belum diterapkannya prinsip pengendalian hama terpadu secara konsisten di tingkat lahan usahatani. Untuk meningkatkan efektifitas pengendalian maka kegiatan pengendalian OPT diupayakan dilakukan pada pusat-pusat serangan atau areal yang memiliki potensi untuk menjadi sumber serangan. Pengendalian harus dilakukan secara serentak pada areal yang relatif kompak, dilakukan secara berulang sehingga mampu menurunkan tingkat serangan dan menumbuhkan kesadaran bagi petani untuk melakukan kegiatan pengendalian secara mandiri.

Pengendalian OPT pada tanaman cengkeh dilaksanakan secara serentak dan massal pada kelompok pelaksana pengendalian dengan menerapkan PHT antara lain kelompok tani Sidomuncul Desa Kemiri Kecamatan Puspo, Kelompok tani Dodokan makmur Desa Kalipucang Kecamatan Tutur dan kelompok Tani Mulyorejo Kelurahan Ledug Kecamatan Prigen yang menjadi sentra tanaman cengkeh dan sebtra serangan OPT utama.

1) Hama penggerek batang (Nothopeus sp.):

a) Kultur Teknis

- Sanitasi kebun pembersihan lahan, pemangkasan cabang-cabang terserang OPT

- Pemupukan menggunakan pupuk organik dan anorganik plus pemberian Dolomit untukmemperbaiki struktur tanah

b) Mekanis

Pada tanaman yang terserang berat dan tidak ekonomis bahkan sudah mati untuk dipulihkan dan menghilangkan sumber penyakit dilakukan eradikasi.

c) Kimiawi

Memasukkan insektisida berbahan aktif carbofuran atau asefat ke dalam lubang gerekan yang masih aktif

2) Penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh (BPKC) adalah :

a) Kultur Teknis

- Sanitasi kebun pembersihan lahan

- Pemupukan menggunakan pupuk organik dan anorganik plus pemberian Dolomit untukmemperbaiki struktur tanah

b) Mekanis

- Tananam cengkeh yang terserang berat dilakukan eradikasi dengan cara ditebang dan dibakar untuk mengurangi sumber inokulum

- Membersihkan alat-alat pertanian yang telah digunakan di areal tanaman terserang, sebelum digunakan pada tanaman sehat.

c) Kimiawi

Melakukan infuse batang dengan antibiotik yang telah terdaftar pada Komisi Pestisida.

  • Penyemprotan Hindola fulfa dengan menggunakan insektisida kontak/ lambung dengan interval 6 (enam) minggu sekali (untuk tanaman yang masih bisa diselamatkan)

2. Penyuntikan (infuse) dengan antibiotic oksitetrasklin (OTC) sebanyak 6gr/ 100 ml air.

- Jarum infuse yang digunakan berdiameter 1mm

-Penginfusan dilakukan setiap 3-4 bulan sekali

- Kedalaman jarum infuse 5-10 cm

- Ketinggian titik infuse dari prermukaan tanah 1-1,5 m

3. Perbaikan fisik tanaman dengan pemupukan kombinasi N dan K

4. Menggunakan bibit cengkeh unggul dan menghindari penggunaan bibit dari daerah terserang.

5. Mencegah masuknya daun cengkeh dari daerah terserang

6. Eradikasi tanaman yang sudah mati (dipotong, bongkar akar dan dibakar

3) Penyakit Jamur Akar Putih (Rigidophorus lignosus)

Penyakit ini merupakan penyebab utama dan bisa mempercepat kematian tanaman apa lagi pada tanaman yang sudah terserang penyakit BPKC.

a) Kultur Teknis

- Membersihkan sisa tanaman (tunggul)....

- Pengendalian gulma disekitar piringan tanaman

- Perbaikan saluran drainase.

b) Mekanis

- Penjarangan tanaman pada pertanaman yang mempunyai jarak tanam terlalu rapat.

- Membongkar tanaman mati/tumbang.

- Pemberian Gamping dan belerang pada lubang bekas tanaman yg mati.

c) Biologis

Aplikasi Trichoderma sp. Dengan dosis 100 g/pohon diulang 2 (dua) kali Aplikasi diiringi dengan pemberian pupuk organik dengan dosis 400 kg/hektar.

Aplikasi pestisida nabati sebanyak 2 l/hektar.

Tehnik pengendalian Penyakit BPKC dg infus pestisida

Teknik pemupukan dan pemberian dolomit pada tanaman terserang Penyakit

Pertanaman cengkeh terserang penyakit BPKC di Desa Kalipucang Kec.Tutur.

Pertanaman cengkeh terserang penyakit BPKC di Kelurahan Ledug Kec.Prigen.

DAFTAR PUSTAKA :

Astuti, Y dan Y Maryani Tahun 2016. Hama dan Penyakit Utama pada Tanaman Cengkeh

Drektorat Perlindungan Perkebunan, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Jakarta 30 hal.

Ditjenbun (2012). Program Rehabilitasi Cengkeh Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian

Bennet, C.P.A., P.Hut, and A. Asman (1979a), Aetiological in investigations into the mass deceline of cloves in West Sumatera. Kongrs. Nas V PFI, Malang, Jan. 1979, 11p.

Djafaruddin (1983), Mengenal dan mengamati penyakir cacar daun cengkeh (CDC) di Sumatera Barat. Maj. Ilmiah Fak. Pert. Univ. Andalas, Padang 23, 83-96.

Hadiwijaya, T. (1954), Arti ekonomi dari cengkeh untuk Indonesia . Tekn Pert. 3. 293

Komentar (0)

  1. Belum ada komentar


Tulis Disini