ZERO WASTE AGRICULTURE (KONSEP PERTANIAN TANPA LIMBAH)

ZERO WASTE AGRICULTURE

(KONSEP PERTANIAN TANPA LIMBAH)

DI KABUPATEN PASURUAN

 

Oleh : Rudi Hartono,SP

ULPPTP Kabupaten Pasuruan

 

Pola integrasi antara tanaman dan ternak atau yang sering disebut dengan pertanian terpadu, adalah memadukan antara kegiatan peternakan dan pertanian. Pola ini sangatlah menunjang dalam penyediaan pupuk kandang di lahan pertanian, sehingga pola ini sering disebut pola peternakan tanpa limbah karena limbah peternakan digunakan untuk pupuk, dan limbah pertanian digunakan untuk pakan ternak.

Integrasi hewan ternak dan tanaman dimaksudkan untuk memperoleh hasil usaha yang optimal, dan dalam rangka memperbaiki kondisi kesuburan tanah. Interaksi antara ternak dan tanaman haruslah saling melengkapi, mendukung dan saling menguntungkan, sehingga dapat mendorong peningkatan efisiensi produksi dan meningkatkan keuntungan hasil usaha taninya.

Konsep pertanian terpadu perlu digalakkan, mengingat sistem ini disamping menunjang pola pertanian organik yang ramah lingkungan, juga mampu meningkatkan usaha peternakan. Komoditas sapi merupakan salah satu komoditas yang penting yang harus terus ditingkatkan, sehingga di harapkan mampu mencapai kecukupan daging nasional. Oleh karena itu upaya ini dapat digalakan pada tingkat petani baik dalam rangka penggemukan ataupun dalam perbanyakan populasi, serta produksi susu.

Dengan meningkatnya populasi ternak sapi akan mampu menjamin ketersediaan pupuk kandang di lahan pertanian. Sehingga program pertanian organik dapat terlaksana dengan baik, kesuburan tanah dapat terjaga, dan pertanian bisa berkelanjutan. Beragamnya pemeliharaan ternak memperluas strategi penurunan risiko budidaya tanaman ganda hingga akan meningkatkan stabilitas ekonomi sistem usaha tani.

Di Kabupaten Pasuruan, tepatnya di Kecamatan Tutur merupakan salah satu sentra  perkebunan kopi rakyat yang dikelola secara terpadu. Petani pemilik lahan menerapkan konsep pertanian tanpa limbah atau yang sering disebut zero waste agriculture. Selain menanam kopi, petani tersebut juga menanam Cengkah sebagai tanaman sela juga sebagai penghasilan tambahan disamping juga sebagai penaung selama menunggu panen kopi ataupun bila harga kopi sedang turun.

Selain bercocok tanam, petani tersebut juga memelihara hewan ternak ruminansia besar yaitu sapi untuk diambil susunya, bila produksi susu telah menurun maka sapi-sapi tersebut dijual sebagai sapi pedaging.

Petani tersebut juga memanfaatkan kotoran sapi yang melimpah untuk diproses sebagai pupuk kandang. Pupuk kandang tersebut kemudian disebar pada lahan kopi sebagai pupuk organik untuk memperbaiki kesuburan lahannya.

Selain menanam kopi, petani tersebut juga menanam rumput di pematang dan hijauan dari penaung tetap yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.

 

 

Integerasi Kebun Kopi dan Ternak Sapi

 

 

 

Sistem Pertanian Terpadu Tanaman Dan Ternak

Konsep Sistem Pertanian terpadu adalah konsep pertanian yang dapat dikembangkan untuk lahan pertanian terbatas maupun lahan luas. Pada lahan terbatas atau lahan sempit yang dimiliki oleh petani umumnya konsep ini menjadi sangat tepat dikembangkan dengan pola intensifikasi lahan. Lahan sempit akan memberikan produksi maksimal tanpa ada limbah yang terbuang percuma. Sedangkan untuk lahan lebih luas konsep ini akan menjadi suatu solusi mengembangkan pertanian agribisnis yang lebih menguntungkan. Melalui sistem yang terintegrasi ini akan bermanfaat untuk efisiensi penggunaan lahan, optimalisasi produksi, pemanfaatan limbah, subsidi silang untuk antisipasi fluktuasi harga pasar dan kesinambungan produksi

Reijntjes (1999) mengatakan, hewan atau ternak bisa beragam fungsi dalam sistem usaha tani lahan sempit, hewan memberikan berbagai produk, seperti daging, susu, telur, wol, dan kulit.

Selain itu, hewan juga memiliki fungsi sosiokultural, misalnya sebagai mas kawin, untuk pesta upacara dan sebagai hadiah atau pinjaman yang memperkuat ikatan sosial. Dalam kondisi input luar rendah, integrasi ternak ke dalam sistem pertanian penting, khususnya untuk :

1. Meningkatkan jaminan subsistens dengan memperbanyak jenis-jenis usaha untuk menghasilkan pangan bagi keluarga petani

2. Memindahkan unsur hara dan energi antara hewan dan tanaman melalui pupuk kandang dan pakan dari daerah pertanian dan melalui pemanfaatan hewan penarik.

Sistem ini membentuk suatu agroekositem yang masif. Agroekosistem dengan keanekaragamnnya tinggi seperti ini akan memberi jaminan keberhasilan usaha tani yang lebih tinggi. Keanekaragaman fungsional bisa dicapai dengan mengkombinasikan spesies tanaman dan hewan yang memiliki sifat saling melengkapi dan berhubungan dalam interaksi sinergetik dan positif, sehingga bukan hanya kestabilan yang dapat diperbaiki, namun juga produktivitas sistem pertanian dengan input yang lebih rendah.

Kelebihan sistem ini, antara lain input dari luar minimal atau bahkan tidak diperlukan karena adanya daur limbah di antara organisme penyusunnya, biodiversitas meningkat apalagi dengan penggunaan sumberdaya lokal, peningkatan fiksasi nitrogen, resistensi tanaman terhadap jasad pengganggu lebih tinggi dan hasil samping bahan bakar biogas untuk rumah tangga (Nurcholis dan Supangkat, 2011).

Sistem Pertanian Terpadu memiliki keuntungan baik aspek ekologi maupun ekonomi. Keuntungan yang dimaksud, yaitu lebih adaptif terhadap perubahan (habitat lebih stabil), ramah  lingkungan (UTARA/usaha tani ramah lingkungan), hemat energi (tidak ada energi yang terbuang), keanekaragaman hayati tinggi, lebih resisten, usaha lebih diversifikatif (risiko kegagalan relatif rendah), diversifikasi produk lebih tinggi, produk lebih sehat (minimalisasiresidu senyawa berbahaya), keberlanjutan usaha tani lebih baik, serapan tenaga kerja lebih baik dan sinambung (Sutanto, 2002; Supangkat, 2009).

 

Pemanfaatan Limbah Kotoran Ternak

Limbah atau kotoran ternak dapat digunakan sebagai sumber pupuk organik untuk memupuk tanaman sehingga dapat menambah unsur hara tanaman serta lebih ramah terhadap lingkungan. Penggunaan pupuk kimia juga menjadi lebih efisien dan produksi yang diperoleh akan lebih meningkat, yang pada akhirnya akan berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani.

 Sistem integrasi antara tanaman dan ternak dicirikan oleh adanya sinergisme atau keterkaitan yang saling menguntungkan antara tanaman dengan ternak. Dari ternak yang dipelihara selain produk utamanya daging atau susu, diperoleh limbah berupa kotoran ternak yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik untuk memupuk tanaman kakao sehingga produksinya meningkat (Listyati dan Pranowo, 2017).

Pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak dapat memperbaiki sifat fisik tanah karena adanya perbaikan aerasi tanah dan peningkatan ketersediaan unsur-unsur hara yang terikat dengan koloid tanah juga dapat memperbaiki nisbah C/N ratio dalam tanah (Dwiyanto,  Prawiradiputra, & Lubis, 2001).

Penggunaan bahan organik sebagai pupuk dapat memperbaiki struktur maupun aerasi tanah sehingga usahatani yang dilakukan dapat mendukung sistem usahatani yang berkelanjutan. Sebaliknya, penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dan terus menerus justru akan merusak tanah.

Penerapan sistem usaha tani terpadu integrasi dengan ternak tersebut mengarah pada prinsip pertanian“zero waste”, yaitu memanfaatkan semua komponen dan hampir tidak ada yang terbuang sebagaimana yang dimaksudkan dalam pertanian bioindustri (Listyati dan Pranowo, 2017).

Menurut Hendriadi (2014) sistem pertanian bioindustri adalah sistem pertanian yang mengelola dan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya hayati termasuk biomassa dan limbah pertanian bagi kesejahteraan masyarakat dalam suatu ekosistem dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 Dari pemanfaatan berbagai potensi yang ada dan penggunaan lahan secara lebih efisien di tingkat petani, diperoleh nilai tambah serta pendapatan lebih meningkat dan kesuburan tanah terjaga sehingga diharapkan dapat tercapai sistem pertanian yang berkelanjutan (Listyati dan Pranowo, 2017).

 

Pemanfaatan Daun Kopi Untuk Mulsa

Pada pertanaman kopi daun daun yang sudah tua berguguran dibiarkan pada musim kemarau kemudian dimasukkan kedalam rorak waktu musim penghujan, tujuannya supaya daun-daun tersebut lapuk dan menjadi seresah yang dapat digunakan juga sebagai bahan organik untuk memperbaiki kesuburan tanah di sekitar perakaran kopi. Selain itu daun daun kopi yang berguguran juga dapat digunakan sebagai mulsa untuk mencegah perakaran kopi mengalami stres kekeringan.

 

Integrasi Tanaman-Ternak

Sapi perah mempunyai produk primer harian yaitu susu dan hasil ikutannya berupa kotoran ternak. Kotoran ternak diolah menjadi biogas dan pupuk bagi tanaman

Teknologi integrasi tanaman-ternak biasanya menerapkan konsep produksi bersih (cleaner production) yang bertujuan untuk menghasilkan usahatani tanpa limbah (zerro waste), karena limbah peternakan digunakan sebagai sumber pupuk organik untuk usaha pertanian dan sumber energi (biogas). Sedangkan limbah pertanian digunakan untuk pakan usaha peternakan dan juga sebagai sumber pupuk organik. Ternak yang diintegrasikan dengan tanaman mampu memanfaatkan produk ikutan dan produk samping tanaman (sisa-sisa hasil tanaman/limbah) untuk pakan ternak. Sebaliknya, ternak dapat menyediakan bahan baku pupuk organik (padat  dan cair) sebagai sumber hara yang dibutuhkan tanaman secara berkelanjutan.

 

 

 

Pemberian pupuk kandang kotoran sapi pada tanaman kopi

 

Secara umum, teknologi integrasi tanaman-ternak bertujuan untuk  meningkatkan produktivitas tanaman dan ternak, mengurangi pencemaran  lingkungan, memperbaiki kesuburan lahan secara berkelanjutan dengan biaya murah, meningkatkan pendapatan petani, dan meningkatkan kegiatan usaha tani secara efsien.

Ada beberapa keuntungan yang diperoleh dengan penerapan  teknologi integrasi tanaman-ternak, antara lain: (1) adanya diversifkasi penggunaan sumberdaya produksi; (2) dapat mengurangi terjadinya risiko; (3) terjadinya efsiensi penggunaan tenaga kerja; (4) terjadinya efsiensi penggunaan komponen produksi; (5) terjadinya pengurangan ketergantungan terhadap energi kimia dan energi biologi serta masukan sumberdaya lainnya dari luar; (6) menjadikan sistem ekologi lebih lestari dan tidak menimbulkan polusi sehingga dapat melindungi lingkungan hidup; (7) dapat meningkatkan output; dan (8) menjadikan berkembangnya rumah tangga petani yang lebih stabil

Selain keuntungan tersebut, ada beberapa kerugian dan kendala yang harus mendapat perhatian, antara lain: (1) pengembalaan kambing di kebun karet menyebabkan banyak batang karet yang rusak dan lateks yang tumpah akibat ditanduk; (2) memerlukan modal yang besar untuk pembelian ternak; (3)
belum optimalnya adopsi inovasi teknologi sistem integrasi tanaman-ternak,  seperti pemanfaatan jerami/limbah fermentasi untuk pakan ternak(Balitbangtan, 2010)

Namun demikian, penerapan teknologi integrasi tanaman-ternak memberikan manfaat dan dampak, antara lain: (1) petani menjadi termotivasi untuk selalu mempertahankan kesuburan lahan pertanian dengan cara menerapkan inovasi teknologi budidaya dan penggunaan bahan organik; (2) penggunaan pupuk kimia (anorganik) sesuai anjuran dan diimbangi dengan penggunaan pupuk organik; (3) terbukanya peluang pasar baru (new market) karena banyaknya petani menggunakan pupuk organik sehingga dapat mendorong masyarakat perdesaan untuk mengembangkan industri pupuk organik melalui  pemeliharaan ternak; (4) pendapatan dan kesejahteraan petani meningkat akibat berkurangnya biaya pembeliaan pakan ternak karena memanfaatkan limbah tanaman sebagai sumber pakan dan limbah ternak sebagai sumber pupuk organik; (5) produk utama dalam budidaya ternak adalah anaknya, dari hasil penjualan pupuk organik akan mengatasi pembiayaan sebagian pakan; dan (6) usaha peternakan dipandang sebagai salah satu usaha investasi (tabungan) yang tidak terpengaruh in?asi, dan mampu menciptakan lapangan kerja yang memang tidak tersedia di perdesaan, serta menjadi bagian integral dari sistem usahatani dan kehidupan masyarakat (Diwyanto, dkk., 2002).

 

Kesimpulan

 

Hasil dari praktek budidaya pertanian menggunakan sistem zero waste yaitu dengan memadukan ternak dan tanaman, serta penggunaan input luar rendah mempunyai banyak sekali keuntungan dan manfaatnya.

Penerapan sistem integrasi tanaman kopi dengan ternak dapat berfungsi untuk menambah pendapatan dari tanaman sela dan ternak.

Penggunaan pupuk organik baik dari limbah kotoran ternak maupun limbah tanaman kopi berdampak terhadap peningkatan produktivitas tanaman kopi dan pendapatan petani, peningkatan kesuburan tanah dan lingkungan lebih terjaga kelestariannya sehingga sistem pertanian berkelanjutan dapat diwujudkan.

 

 

 

 

 

 

 

Artikel Terkait

UPAYA STABILITASI PRODUKSI TANAMAN CENGKEH DI KABUPATEN PASURUAN

UPAYA STABILITASI PRODUKSI TANAMAN CENGKEH

DI KABUPATEN PASURUAN

 

Oleh:

Rudi Hartono, SP.

Read More

GERAKAN PENGENDALIAN (GERDAL) OPT KOPI TAHUN 2021 DI KABUPATEN PASURUAN

GERAKAN PENGENDALIAN (GERDAL) OPT KOPI TAHUN 2021

DI KABUPATEN PASURUAN

 

Oleh:

Read More

PENGENDALIAN HAYATI KOMODITAS PERKEBUNAN DI KABUPATEN PASURUAN

PENGENDALIAN HAYATI KOMODITAS PERKEBUNAN

DI KABUPATEN PASURUAN

 

Oleh:

Read More

No Comments

Tuliskan Komentar