LUKA API PADA KOMODITAS TEBU

SERANGAN PENYAKIT LUKA API PADA KOMODITAS TEBU

DI JAWA TIMUR

 

Oleh :

GATI WINDIASTIKA, SP. MP.

Pengawas Benih Tanaman Ahli Muda

 

 

Penyakit luka api atau yang biasa dikenal sebagai smut disease yang disebabkan oleh jamur Sporisorium scitamineum merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman tebu. Penyakit ini kali pertama ditemukan di daerah Natal, Afrika Selatan pada 1877. Selanjutnya, penyakit ini ditemukan hampir pada sebagian besar daerah pengembangan tebu di berbagai negara, termasuk Brasil, Argentina, Amerika Serikat, Cina, India, Australia, serta Indonesia.

Penyakit luka api memiliki gejala yang sangat khas sehingga mudah dikenali di lapangan. Tanaman tebu yang terserang penyakit tersebut akan membentuk cambuk berwarna hitam pada bagian ujung tanamannya. Cambuk yang terbentuk dari gabungan antara jamur dan bagian tanaman tebu tersebut dapat mencapai ukuran lebih dari 1,5 meter. Bagian berwarna hitam tersebut sebetulnya merupakan massa spora jamur yang berfungsi sebagai sumber inoculums, yang dengan bantuan angin, dapat menyebar ke tanaman lain untuk menyebabkan infeksi sekunder. Pada umumnya, tanaman tebu yang terinfeksi luka api akan menghasilkan gejala berupa cambuk hitam tersebut pada umur 4-8 pekan setelah infeksi.

Penyakit luka api ini tidak serta merta menyebabkan tanaman tebu mati, tetapi pada serangan yang parah tanaman tebu hanya dapat menghasilkan batang yang kecil-kecil seperti rumput dan kerdil. Pengendalian penyakit luka api yang utama adalah dengan menggunakan varietas yang tahan. Sementara itu, untuk mencegah penyebaran penyakit dapat dilakukan cara memastikan bahan tanaman yang digunakan berasal dari tanaman yang sehat, tidak terinfeksi penyakit. Selanjutnya, apabila memungkinkan, lakukan pengolahan tanah pada lahan-lahan yang terinfeksi parah untuk mengurangi sumber inokulum sehingga dapat mencegah penyebaran penyakit.

Penyebaran penyakit luka api di lahan terutama melalui angin yang membantu penyebaran spora serta penggunaan bahan tanaman yang tidak sehat atau telah terinfeksi oleh jamur. Tidak menutup kemungkinan juga spora menyebar ke area lain melalui alat mesin pertanian, sepatu serta alat-alat lain yang digunakan oleh petani. Spora jamur luka api dapat bertahan di dalam tanah yang kering selama lebih dari 3 bulan. Spora juga dapat bertahan pada jaringan tanaman tebu selama tanaman tersebut masih hidup. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa penyakit luka api tidak menyebabkan tanaman tebu langsung mati karena jamur membutuhkan tanaman untuk dapat tetap hidup. Di lapangan, kejadian penyakit luka api akan meningkat dalam kondisi cuaca panas dan kering.

Penyakit luka api dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar pada produksi tebu, tidak hanya secara kuantitas tetapi juga kualitas tebu yang dihasilkan termasuk rendemen tebunya. Serangan penyakit luka api pada varietas tebu yang rentan dapat menyebabkan kehilangan hasil lebih dari 60 %. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa potensi kehilangan hasil perkebunan tebu akibat luka api pada tanaman raton lebih tinggi dibandingkan dengan plant-cane. Kehilangan hasil pada tanaman PC (Plant-Cane) mencapai 8%, sedangkan pada tanaman raton luka api menyebabkan kerugian sebesar 16-20%.

Di Indonesia, pengamatan luka api pada pertanaman tebu di daerah pengembangan di Sulawesi menunjukkan bahwa kejadian penyakit tersebut dapat mencapai 16%. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kejadian penyakit luka api sebesar 1% dapat meningkatkan resiko kehilangan hasil sebanyak 0,6%.

PENGENDALIAN PENYAKIT LUKA API PADA TANAMAN TEBU DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

Penyakit luka api merupakan salah satu penyakit yang terdampak oleh perubahan iklim. Untuk mengantisipasi agar kejadian penyakit ini tidak meluas maka diperlukan penggantian varietas baru yang lebih tahan terhadap penyakit ini dan lebih mampu beradaptasi terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Adanya variasi genetik patogen menyebabkan mereka mampu beradaptasi dengan cepat terhadap varietas yang tahan. Penggantian varietas secara berkala atau peningkatan keragaman varietas akan memperkecil kemungkinan jamur bermutasi atau beradaptasi dengan varietas yang baru. Karena menurut (McDonald & Linde, 2002), patogen mampu berubah dengan cepat menjadi tahan terhadap pestisida maupun dalam beradaptasi/mengatasi ketahanan suatu varietas yang baru atau terhadap perubahan lingkungan. Penyakit luka api merupakan penyakit yang terbawa angin dan bahan tanaman yang terinfeksi jamur secara sistemik. Monitoring secara berkala diikuti sanitasi dan eradikasi ‘cambuk’ akan membantu mengurangi penyebaran penyakit. Sanitasi kebun dengan membersihkan gulma atau tumbuhan inang alternatif yang tumbuh di sekitar pertanaman tebu. Penggunaan bahan tanaman bebas patogen merupakan alternatif pengendalian yang sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya ledakan penyakit luka api di daerah baru. Perawatan bahan tanaman dengan air panas (PAP) suhu 52°C selama 30-45 menit atau perendaman bahan tanaman dengan fungisida yang mengandung bahan aktif cyproconazole, propiconazole, triadimefon atau azoxystrobin. Penggunaan fungisida tersebut pada benih sebelum tanam mampu mengendalikan luka api sampai 6?9 bulan. Untuk wilayah Jawa Timur varietas Bululawang dirasa sudah tidak efektif lagi digunakan untuk pencegahan serangan penyakit luka api.

 

DAFTAR PUSTAKA

BALITTAS. 2020. Prosiding Seminar Nasional Status dan Inovasi Teknologi Tanaman Tebu ” Inovasi Teknologi on Farm Tebu untuk Mendukung Upaya Pemenuhan Kebutuhan dan Swasembada Gula Nasional”//PENYUNTING, BUDI HARIYONO [ET AL.]. –MALANG.

Hidayah, Nurul. 2018. Ancaman Luka Api pada Perkebunan Tebu. Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat.

Nurindah dan Yulianti, Titik. 2018. Strategi Pengelolaan Serangga Hama dan Penyakit Tebu dalam Menghadapi Perubahan Iklim. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri. ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853. Vol. 10(1), April 2018:39?53.

No Comments

Tuliskan Komentar