GOOD AGRICULTURE PRACTICE (GAP) TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.)

GOOD AGRICULTURE PRACTICE (GAP)

TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.)

Oleh:

GATI WINDIASTIKA, SP. MP

(PBT Ahli Muda)

Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya

 

Tebu sebagai bahan baku dalam proses produksi gula yang merupakan salah satu kebutuhan pokok penduduk Indonesia. Kebutuhan konsumsi  gula terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi masyarakat.

Dalam budidaya tanaman tebu tidak akan terlepas dengan adanya benih sebagai bahan tanam dari tanaman tebu yang akan menghasilkan gula. Budidaya tebu adalah segala upaya yang dilakukan untuk menciptakan kondisi lingkungan tumbuh tanaman yang optimal agar berproduksi mendekati/mencapai potensi genetiknya. Untuk menentukan tindakan budidaya diperlukan pendekatan-pendekatan sesuai dengan aslinya menyangkut lingkungan tumbuh dan sifatnya.

Untuk mengetahui kecukupan tindakan budidaya yang telah dilakukan pada setiap fase pertumbuhan dalam kaitannya dengan produktivitas gula diperlukan pemantauan (monitoring) dan tolok ukur secara kuantitatif baik keragaan tanaman maupun kondisi lingkungan. Penilaian dilakukan berdasarkan hasil monitoring terhadap tolok ukur yang menjadi acuan pencapaian (target) apakah proses pertumbuhan dan hasil panen tanaman yang dibudidayakan berjalan baik. Berdasarkan hasil penilaian kemudian ditentukan tindakan berikutnya untuk memperbaiki kondisi lingkungan tumbuh sehingga hasil tebu dan gula yang maksimal atau sesuai dengan potensinya tercapai. Oleh karena itu pengetahuan kebutuhan lingkungan tumbuh dan sifat asli tanaman tebu, fase pertumbuhan tebu dan aspek pokok dalam budidaya tebu serta pemantauan perlu dikuasai dalam rangka mencapai keberhasilan usaha pertanaman tebu.

 

 

LINGKUNGAN TUMBUH DAN SIFAT ASLI TANAMAN TEBU

Tebu merupakan tumbuhan yang dapat ditanam di daerah tropis dan subtropis, lebih kurang pada daerah antara 390LU dan 390LS. Di daerah tropis, tanaman tebu dibudidayakan di negara-negara seperti Thailand, Filipina, Malaysia, India, dan Indonesia. Sedangkan di daerah subtropis budidaya tebu banyak dijumpai di Amerika Tengah, Amerika Selatan, Australia, dan Hawai. Di Indonesia, sentra perkebunan tebu terutama berada di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo.

Tebu dapat tumbuh di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi, hingga pada ketinggian 1.400 m di atas permukaan laut (dpl). Tetapi pada ketinggian mulai 1.200 mdpl pertumbuhan tebu akan lambat. Adapun curah hujan yang optimum untuk tanaman tebu adalah 1.500 – 2.500 mm per tahun dengan hujan tersebar merata. Produksi yang maksimum dicapai pada kondisi yang memiliki perbedaan curah hujan yang ekstrim antara musim hujan dan musim kemarau. Suhu yang baik untuk tanaman tebu berkisar antara 240C hingga 300C, dengan kelembaban nisbi yang dikehendaki adalah 65 – 70%, dan pH tanah 5,5 – 7,0. Kecepatan angin yang optimum untuk pertumbuhan tebu kurang dari 10 km/jam, karena angin dengan kecepatan lebih dari 10 km/jam akan merobohkan tanaman.

Tekstur tanah yang cocok untuk tanaman tebu adalah tekstur tanah ringan sampai agak berat dengan kemampuan menahan air yang cukup.  Kedalaman (solum) tanah untuk pertumbuhan tanaman tebu minimal 50 cm dengan tidak ada lapisan kedap air. Syarat topografi lahan tebu adalah berlereng panjang, rata, dan melandai. Bentuk permukaan lahan yang baik untuk pertumbuhan tebu adalah datar sampai bergelombang dengan kemiringan lereng 0– 8 % .

Secara morfologi, tanaman tebu memiliki sistem perakaran serabut yang terbagi menjadi dua, yaitu akar tunas dan akar stek. Akar tunas adalah akar yang tumbuh dari mata tunas, sedangkan akar stek adalah akar yang tumbuh pada cincin akar batang. Akar stek tidak berumur panjang, sedangkan akar tunas berumur panjang dan merupakan akar permanen.

Batang tanaman tebu tidak bercabang dan terbagi atas dua bagian yaitu buku dan ruas. Buku adalah bagian dari batang yang menghubungkan antara ruas satu dengan ruas berikutnya. Pada buku terdapat mata tunas tempat melekatnya pelepah daun. Pada ruas terdapat jalur munculnya tunas dan lapisan lilin yang berbatasan dengan bagian bawah buku. Batang tebu memiliki warna dan bentuk yang berbeda-beda. Warna batang ada yang merah, kuning, dan hijau. Bentuk batang ada yang lurus, bengkok, cekung, dan cembung. Daun tebu tumbuh dari buku pada salah satu sisi batang, dan posisi daun pada batang biasanya berlawanan arah secara silih berganti (membentuk dua barisan). Panjang daun dapat mencapai 1 m dengan lebar mencapai 10 cm. Stomata terdapat pada kedua sisi permukaan daun.  Kepadatan stomata lebih banyak pada permukaan bawah daun daripada permukaan atas daun. Ketika tanaman tebu berubah dari fase vegetatif ke fase generatif pembentukan daun akan terhenti dan mulai terjadi pembungaan. Bunga tebu merupakan bunga majemuk yang berbentuk malai. Dalam satu malai terdapat beribu-ribu bunga kecil yang masing-masing memproduksi satu biji. Bijinya sangat kecil dan beratnya sekitar 250 biji/g.

 

FASE PERTUMBUHAN TEBU

Dalam pertumbuhannya hingga siap dijadikan bahan baku produksi gula, tanaman tebu melewati 4 (empat) fase pertumbuhan yaitu:

  • Fase Perkecambahan (0 – 1 Bulan) 

Fase perkecambahan pada tanaman tebu dimulai saat terjadinya pertumbuhan mata tunas tebu yang awalnya dorman menjadi tunas muda yang dilengkapi dengan daun, batang, dan akar. Fase perkecambahan sangat ditentukan faktor internal pada bibit seperti varietas, umur bibit, jumlah mata, panjang stek, cara meletakan bibit, jumlah mata, bibit terinfeksi hama penyakit, dan kebutuhan hara bibit. Selain itu, faktor eksternal seperti kualitas dan perlakuan bibit sebelum tanam, aerasi dan kelengasan tanah, kedalaman peletakan bibit (ketebalan cover), dan kualitas pengolahan tanah juga sedikit berpengaruh pada fase perkecambahan ini.

  • Fase Pertunasan atau Fase Pertumbuhan Cepat (1 – 3 bulan)

Pertumbuhan anakan adalah perkecambahan dan tumbuhnya mata-mata pada batang tebu di bawah tanah menjadi tanaman tebu baru. Fase pertunasan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tebu, karena dapat merefleksikan produktivitas tanaman tebu.  Pada fase ini, tanaman membutuhkan kondisi air yang terjamin kecukupannya, oksigen dan hara makanan khususnya N, P dan K serta penyinaran matahari yang cukup.

Dikatakan fase pertunasan karena umur tersebut secara agresif tanaman tebu mengalami pertumbuhan secara horizontal dengan terbentuknya tunas-tunas baru secara bertahap. Mulai dari tunas primer sampai tunas tertier.  Pada umur tanaman ini, pertumbuhan ke samping terus terjadi hingga mencapai pertumbuhan jumlah tunas maksimum pada umur tebu sekitar 3 bulan. Proses pertunasan meskipun dominan terjadi munculnya anakan, namun pola petumbuhannya berupa fisik dicerminkan dengan pembentukan daun, akar, dan batang.

Pertunasan sebagai bagian dari proses pertumbuhan vegetatif, akan sangat dipengaruhi oleh berbagai kondisi di dalam tubuh tebu (intrinsik) yang meliputi sifat-sifat genetis dan hormon yang terdapat di dalam tubuh tebu. Selain itu kondisi lain yang mempengaruhi pertunasan adalah kondisi lingkungan (ekstrinsik) yang meliputi intensitas penyinaran matahari, air, unsur hara, dan temperatur.

  • Fase Pemanjangan Batang (3 – 9 bulan)

Proses pemanjangan batang pada dasarnya merupakan pertumbuhan yang didukung dengan perkembangan beberapa bagian tanaman yaitu perkembangan tajuk daun, perkembangan akar dan pemanjangan batang.  Fase ini terjadi setelah fase pertumbuhan tunas mulai melambat dan terhenti. Pemanjangan batang merupakan proses paling dominan pada fase ini, sehingga stadia pertumbuhan pada periode umur tanaman 3 – 9 bulan ini dikatakan sebagai stadia perpanjangan batang.

Ada dua unsur dominan yang berpengaruh dalam fase pemanjangan batang. Unsur tersebut adalah diferensiasi dan perpanjangan ruas-ruas tebu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan terutama sinar matahari, kelembaban tanah, aerasi, hara N, dan faktor inheren tebu.

  • Fase Kemasakan atau Fase Generatif Maksimal (10-12 bulan)

Fase kemasakan ini diawali dengan semakin melambat bahkan terhentinya pertumbuhan vegetatif. Tebu yang memasuki fase kemasakan secara visual ditandai dengan pertumbuhan tajuk daun berwarna hijau kekuningan, pada helaian daun sering kali dijumpai bercak berwarna coklat. Pada kondisi tebu tertentu sering ditandai dengan keluarnya bunga. Selain sifat inheren tebu (varietas), faktor lingkungan yang berpengaruh cukup dominan untuk memacu kemasakan tebu antara lain kelembaban tanah, panjang hari dan status hara tertentu seperti hara nitrogen.

ASPEK BUDIDAYA TEBU

Pengelolaan tanaman tebu yang baik yaitu semua usaha yang berwawasan lingkungan meliputi :

  • Penataan Varietas

Penataan varietas dilakukan melalui penentuan varietas unggul yang akan ditanam sesuai dengan tipologi lahan, penetapan komposisi kemasakan, kesesuaian varietas unggul dengan rencana tebang dan masa tanam serta ketersediaan bahan tanam yang sehat, murni dan tepat waktu saat dibutuhkan. Penanaman tebu dilakukan berdasarkan komposisi kemasakan (masak awal, awal tengah, tengah, dan tengah lambat) yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan baku masing-masing pabrik gula. Varietas yang digunakan merupakan varietas unggul sesuai dengan standar teknis dan bersertifikat.

  • Penetapan Masa Tanam

Penetapan masa tanam harus direncanakan berdasarkan rancangan pola giling pabrik gula, dengan ketentuan umur tebu layak giling minimal 11 (sebelas) bulan dengan memperhatikan tingkat kemasakan tebu. Pola tanam dibedakan menjadi dua pola yaitu:

  • Pola A/I  

Dilaksanakan di lahan berpengairan dan waktu penanaman April (awal musim kemarau) sampai dengan Agustus. Varietas yang ditanam kategori masak awal, awal tengah dan tengah.

  • Pola B/II

Dilaksanakan di lahan tadah hujan dan waktu penanaman pada September (awal musim hujan) sampai akhir bulan November. Varietas yang ditanam kategori masak tengah dan tengah lambat.

  • Penetapan Lahan

Penetapan lahan tebu harus sesuai dengan kondisi agroklimat dan lahan sebagai berikut:

  • Curah hujan antara 1.000 – 2.000 milimeter per tahun dengan sekurang-kurangnya 3 bulan kering;
  • Suhu udara antara 240C - 300C dengan beda suhu musiman (musim hujan dan kemarau) tidak lebih dari 6°C dan beda suhu antara siang dan malam sekitar ±100C. Pada suhu udara 320C aktivitas respirasi meningkat, sehingga dapat mengurangi penimbunan hasil fotosintesis (gula). Pada fase kemasakan perbedaan suhu siang dan malam yang lebih tinggi (10-150C) akan meningkatkan potensi gula;
  • Penyinaran antara 10-12 jam per hari;
  • Kecepatan angin kurang dari 10 km/jam di siang hari;
  • Kelembaban udara kurang dari 85% sangat baik untuk pemasakan karena tebu lebih cepat kering;
  • Ketinggian tebu yang ideal dapat diusahakan secara ekonomis sampai 500 m dpl;
  • Kemiringan lahan tidak lebih dari 3% dengan bentuk lahan yang relatif datar sampai berombak lemah. Pada daerah dengan kemiringan 4-16% dapat diusahakan sebagai pertanaman tebu dengan menerapkan kaidah-kaidah konservasi;
  • Tanah tidak terkontaminasi logam berat, residu pestisida, dan bahan lain yang berbahaya;
  • Lahan yang digunakan bukan lahan endemik Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
  • Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah dilakukan untuk menciptakan lingkungan tumbuh yang sesuai bagi tanaman tebu mulai dari awal pertumbuhan sampai panen, sehingga diperoleh lahan yang optimal untuk pertumbuhan tebu. Pengolahan tanah dapat dilakukan melalui Sistem Reynoso (manual), Sistem Semi Mekanisasi, atau Sistem Mekanisasi.

  • Persiapan Benih

Benih tebu yang digunakan dari varietas tebu unggul yang berasal dari kebun sumber benih yang telah disertifikasi. Benih yang digunakan dapat berupa stek batang, bagal mata 2 atau 3 dan benih tumbuh berasal dari budset atau budchip yang disemaikan. Benih dapat diperoleh dari hasil penjenjangan kebun benih maupun kultur jaringan.

  • Penanaman

Untuk mendapatkan pertumbuhan batang yang baik (berat tebu/ha) dan kadar gula dalam batang tebu yang tinggi diperlukan teknik penanaman yang baik. Teknik penanaman dapat dilakukan dengan 2 (dua) sistem yaitu sistem manual dan sistem mekanis.

 

 

  • Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman tebu terdiri dari beberapa tahapan antara lain pengairan, penyulaman, pemupukan, turun tanah dan gulud, klentek, pengaturan drainase, dan pengendalian OPT. Pemeliharaan dapat dilakukan dengan 2 (dua) sistem yaitu sistem manual dan sistem mekanis.

  • Panen (Tebang, Muat dan Angkut)

Tebang, Muat dan Angkut (TMA) tebu giling yang baik dilakukan untuk memaksimalkan pencapaian potensi bobot tebu dan rendemen yang telah terbentuk di kebun menjadi bahan baku produksi gula dan memenuhi pasokan bahan baku yang berkualitas yang telah direncanakan harian sesuai dengan pola giling yang dikoordinir oleh pabrik gula. Untuk keberhasilan kegiatan TMA, perlu ditetapkan manajemen yang tepat mulai perencanaan hingga pelaksanaannya.

 

KESIMPULAN

Dalam rangka mencapai keberhasilan usaha pertanaman tebu, maka harus mengetahui tentang lingkungan tumbuh dan sifat asli tanaman tebu, fase pertumbuhan tebu serta aspek penting dalam budidaya tebu.

 

PUSTAKA

Alfiandi, Moch Hasan Hilmi. Wajib Tahu! Ini Syarat Tumbuh Tanaman Tebu – Pertanianku. https://www.pertanianku.com › Pertanian › Tanaman Industri. Diakses pada tanggal 6 Agustus 2019.

Anonimous. 2013. Fase Pertumbuhan Tebu. http://geryagronomi. blogspot.com/2013/08/fase-pertumbuhan-tebu.html. Diakses pada tanggal 31 Juli 2019.

Ardiyansyah, Bagustianto dan Purwono. 2015. Mempelajari Pertumbuhan dan Produktivitas Tebu (Saccharum officinarum L.) dengan Masa Tnama Sama pada Tipologi Lahan Berbeda. Bul. Agrohorti 3 (3) : 357 – 365 (2015).

Dwi, Putra. Fase Pertumbuhan Tebu. balittas.litbang.pertanian.go.id › komoditas › 170-berita › infografis › 121. Diakses pada tanggal 1 September 2019.

 

 

Hari, Mulyono. Informasi Geografis dan Syarat Tumbuh Tanaman Tebu. http://digilib.unila.ac.id/3296/14/BAB II.pdf. Diakses pada tanggal 16 Agustus 2019.

Satrio. Teknik Budidaya Tebu. http://satrio-dangerouscancer.blogspot.com/ 2011/10/teknik-budidaya-tebu.html. Diakses pada tanggal 1 September 2019.

 

 

 

Artikel Terkait

KONDISI PERTANAMAN CENGKEH DAN PENGENDALIAN OPT DI KABUPATEN PASURUAN

KONDISI PERTANAMAN CENGKEH DAN PENGENDALIAN OPT

DI KABUPATEN PASURUAN

Oleh : Rudi Hartono, SP.

UPPT Kab. Pasuruan

LuasRead More

Penyebaran Penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh ( BPKC) di Wilayah Kabupaten Pasuruan

Penyebaran Penyakit  Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh ( BPKC)

di Wilayah Kabupaten Pasuruan

 

Oleh : RudiRead More

PROSES FERMENTASI CIRAGI SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS DAN CITA RASA KOPI DI KABUPATEN PASURUAN

PROSES FERMENTASI CIRAGI SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS DAN CITA RASA KOPI DI KABUPATEN PASURUAN

Oleh:

GATI WINDIASTIKA, SP. MP

Read More

No Comments

Tuliskan Komentar